“Aku janji Re. Aku
akan kembali, untukmu,”
dia menggenggam tanganku erat. Suaranya
berat. Pastilah seberat hatinya mengambil keputusan ini. Sama halnya denganku,
berat menerima keputusannya.
Aku masih
menunduk. Sekuat hati menahan perasaanku
yang sudah buncah.
Kenapa dia harus pergi..?? Kenapa secepat ini..??
Kami bahkan belum genap satu bulan berpacaran.
sudah sejak SMA dia jatuh bangun mengejar
cintaku. Namun baru beberapa minggu yang lalu aku mempercayakan hatiku padanya.
Luluh melihat perjuangannya. Aku menitipkan setitik asaku. Asa yang mulai
tumbuh perlahan bersama janji masa depan yang ia sematkan. Dan sekarang..??
Haruskah kisah
ini dijalin bersama jarak dan waktu yang berbeda..?? Yogyakarta dan Balikpapan.
Akankah aku dan dia bisa..?? Ya Tuhan..
Aku bisa saja
merengek padanya, menyuruhnya membatalkan rencana ini, dia pasti akan
melakukannya demi aku. Ya, dia mau
melakukan apa saja untukku.
Aku masih menunduk. Angin berhembus
bagai desingan peluru yang menembus dadaku. Sesak, aku ingin menangis. Bahkan
sebutir air mataku sudah jatuh menerpa pipiku. Sebelum aku menghapusnya,
tangannya sudah terlebih dulu sigap mengusapnya.